Potensi

Potensi dan Tantangan

logonuPeluang dan potensi PCI-NU Taiwan cukup besar untuk dikembangkan memandangkan dari segi jumlah orang Indonesia yang berada di Taiwan, sebagian besarnya adalah warga nahdliyyin. PCI-NU dapat memposisikan dirinya bersih dari kepentingan dan anasir-anasir politik, yaitu menjadi satu jam’iyyah yang betul-betul fokus dalam memberdayakan, memperkuat dan memperkasakan anggotanya.

Sebagai organisasi yang mengandalkan basis ahlinya dari pelbagai latar belakang kelas dan strata sosial masyarakat, kehadiran PCI-NU Taiwan juga diharapkan peranannya dalam membantu atau menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi nahdliyyin di Taiwan. Misalnya, program advokasi tenaga kerja, kerana mayoritas pekerja Indonesia adalah orang-orang yang bekerja di sektor informal, seperti buruh bangunan, cleaner, pembantu rumah tangga yang beresiko tinggi terhadap penyalahgunaan kuasa majikan atau penipuan visa kerja dan lain-lain.

Meskipun mempunyai potensi ahli yang besar, namun PCI-NU Taiwan masih masih mempunyai tantangan besar dalam mengurus dan memberdayakan potensi yang ada. Ada beberapa faktor yang mungkin dapat dijelaskan di sini.

Pertama, warga nahdliyyin yang datang ke Taiwan bertujuan untuk bekerja. Misi kerja ini merupakan aspek prioritias yang tidak dapat diganti dengan aktivitas-aktivitas selain kerja seperti mengikuti program-program yang diadakan PCI-NU Taiwan. Sebagaian besar pekerja pabrik mempunyai libur pada hari sabtu dan minggu, namun tidak demikian dengan pembantu rumah tangga atau penjaga orang tua di rumah sakit. Pembantu rumah tangga dan penjaga orang tua tidak mempunyai hari libur. Dan tidak seidikit pula yang mengalami pelanggaran HAM, karena tidak boleh beribadah sebagaimana mestinya.

Kedua, faktor luasnya wilayah. Warga nahdliyyin yang tersebar di merata-rata tempat merasakan kesulitan untuk menjangkau pusat kegiatan yang ada di Taipei. Kendala transportasi ini bagi mereka merupakan alasan yang tepat untuk tidak datang dan mengikuti aktivitas-aktivitas keagamaan.

Ketiga, sulitnya membentuk lembaga advokasi yang berbadan hukum di Taiwan (seperti lembaga penyuluhan dan bantuan hukum (LPBH)). Hal ini dikarenakan beberapa faktor, antara lain:

  1. Imigrasi, tujuan visa harus sama dengan apa yang dilakukan setelah tiba di Taiwan. Jika mempunyai visa turis dan belajar, maka tidak bisa digunakan untuk kerja.Dan jika mempunyai visa kerja, mereka terikat kontrak dengan agency dan akhirnya mempunyai sedikit waktu untuk organisasi (hanya sabtu dan minggu).
  2. Birokrasi, LPBH memunyai wilayah sendiri-sendiri di Taiwan. Sebagai contoh advokasi di Taipei tidak bisa mengintervensi kejadian yang terjadi di kota lain (Toyuan).