Khalifah Umar, Sang Teladan nan Sederhana

Tak seorang pun yang yang dapat meragukan kepemimpinan sahabat Umar bin Khattab ra. Seorang Khalifah yang mampu memperluas kekuasaan Islam hingga berhasil menaklukkan Persia, Mesir, Syiria, Irak, Burqah, Azerbaijan, Jurjan, Basrah, Kufah hingga Kairo dan Tripoli barat.

Sebagai seseorang dengan kekuasaan yang sedemikian kuat dan luas, tentu wajar saja jika ia diperlakukan dengan penuh kehormatan demi menjaga wibawa pemerintahannya. Maka ketika akan memasuki Baitul Maqdis dan akan disambut oleh para pembesar Romawi yang telah dikalahkannya, Umar disarankan untuk mengganti pakaianya dengan yang mewah, mengganti ontanya dengan kuda yang gagah.

Namun sang Khalifah tidak mau, bahkan marah seraya mengatakan, ”Kita adalah kaum yang diberikan kemuliaan oleh Allah dengan Islam. Bila kita mencari kemuliaan dengan selain Islam, maka Allah akan menghinakan kita.”

Tentang Umar, Rasulullah saw bersabda, “Seandainya setelahku ada nabi lagi, pastilah dia adalah Umar. Ya Allah muliakanlah agama Islam ini dengan Umar bin Khattab.” Khalifah Umar memahami dan menginsyafi bahwa kemuliaan bagi seorang muslim di sisi Allah bukan terletak pada gemerlap materi, busana warna-warni pakaian, atau kuasa yang mendominasi. Dengan sepenuh jiwa Raga sang Khalifah memenuhi dan melaksanakan sepenuhnya, bahwa ketaqwaan adalah sumber segala kemuliaan.

Maka pada suatu hari, sepulang dari menengok kebunnya dan mendapati orangorang sudah selesai melaksanakan sholat ashar berjamaah, sang Khalifah pun merasa telah menjadi orang yang sangat merugi. Demi penyesalannya ini, ia berkata, ”Aku pergi hanya untuk sebuah kebun, sementara ketika aku pulang orang-orang sudah selesai shalat ashar berjamaah! Kini kebun itu kusedekahkan untuk orang-orang miskin.” Pernyataan ini bukan sekedar janji kampanye, namun benar-benar ditepatinya. Sebuah perbuatan yang mengandung nilai-nilai keimanan yang sempurna, ketinggaian akhlak, dan keagungan taqwa yang tidak dimiliki oleh begitu banyak pemimpin di dunia. Keinginan untuk menguasai banyak materi dan potensi bangsanya, menjadikan para pemimpin tega menjadi komprador yang menjual kekayaan Tanah Air-nya demi keuntungan pribadi. Bahkan bebrapa di antaranya, tega menjual kemiskinan bangsanya demi sebuah penghargaan dari bangsa lain yang dianggapnya lebih maju dan modern.

Sekarang, bandingkanlah sikap kepemimpinan elit bangsa ini yang suka bermewah-mewah, berbicara manis dan mengenakan simbol-simbol kemewahan untuk membedakan diri mereka dari rakyat jelata pada umumnya.

Khalifah Umar sering memakai jubah yang terbuat dari bulu domba. Sering kali jubahnya dipenuhi tambalan dari kulit. Sambil memikul jagung dan tepung, ia berjalan mendatangi pasar-pasar untuk menjamu masyarakatnya. Sekali lagi ini bukan sebuah kampanye untuk mendongkrak citra dan meraih simpati dari para pemilik suara pemilu. Tantang hal ini, puteranya, Abdullah, menyatakan, ”Seandainya ada anak kambing yang mati di tepian sungai Eufrat, maka ia benar-benar merasa takut dimintai pertanggungjawaban oleh Allah swt.”

Sebagai pemimpin, Khalifah Umar telah memberikan keteladanan yang agung kepada kaum muslimin terutama para pemimpin dalam menjalankan amanah. Ia seorang pemimpin yang konsisten terhadap janji. Bukan sekedar pandai berjanji ketika kampanye, namun juga pandai melupakan atau berkelit ketika telah memegang kekuasaan.

Sumber : Buletin Jum’at ’Islam Nusantara’ PBNU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s