Keutamaan Nabi Muhammad SAW

Serial Tausyiah PCI NU Taiwan.

Download File Versi PDF : Keutamaan Nabi Muhammad SAW – Pengajian MTYT

Keutamaan Nabi Muhammad SAW

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min.”(QS.9 At-Taubah:128)

Yang pertama dan paling utama, kita panjatkan syukur kepada Allah SWT atas segala kenikmatan kepada kita semua, nikmat iman, nikmat Islam, sehingga kita bisa berkumpul dalam majelis dzikir/ilmu untuk menyebut nama Allah SWT, menyebut nama kekasihnya baginda Nabi Muhammad SAW. Yang dengannya kita menjadi orang yg mukhlisun, beruntung kehidupan kita di dunia maupun kelak di akhirat. Dengan diutusnya Nabi Muhammad SAW, dg iman dan islam inilah yg mengubah dunia dari masa yg penuh kegelapan, penuh fitnah menjadi dunia yg terang benderang. Semoga Allah SWT tetap menguatkan iman dan Islam ini sampai maut menjemput kita, sehingga kita mendapatkan akhir hidup yg khusnul khotimah, amin.
Allah SWT menjadikan dunia ini sebagai tempat untuk menguji manusia. Allah SWT berfirman yang artinya ”Alif laam miim (1). Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (2). Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al Ankabut : 1-3)

Dunia ini tempat untuk menguji Allah SWT kepada manusia, manakah manusia yg betul beriman kepada Allah, memperjuangkan agama Allah, atau menjadi manusia pendusta di muka bumi. Sehingga manusia itu mendapatkan kasih sayang / ridho Allah SWT, atau mendapat murka Allah SWT.
Nabi Muhammad SAW bersabda ”Surga itu dikelilingi (dipenuhi) oleh berbagai hal yang dibenci dan neraka itu dikelilingi oleh berbagai syahwat (kesenangan) hawa nafsu”(Hr Bukhari Muslim).
Untuk meraih surga harus beribadah, menjauhi maksiat, bermujahadah. Sehingga kita perlu bermujahadah.

Nabi Muhammad SAW bersabda ”Surga itu dikelilingi (dipenuhi) oleh berbagai hal yang dibenci dan neraka itu dikelilingi oleh berbagai syahwat (kesenangan) hawa nafsu”(Hr Bukhari Muslim).

Untuk meraih surga harus beribadah, menjauhi maksiat, bermujahadah. Sehingga kita perlu bermujahadah.
” Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al Ankabut : 69).
Bukan hanya satu jalan, tetapi ’subulana’  banyak jalan.

Jika kita ingin mendapatkan kedudukan yang mulia/tinggi disisi Allah SWT di dalam hidup ini. Allah SWT memberikan jalan yang paling dekat, paling mudah, paling enak yaitu adalah itiba (mengikuti) jalannya baginda Nabi Muhammad SAW. Tetapi hawa nafsu syaitan senantiasa berusaha mengahalang-halangi kita untuk mengikuti Nabi Muhammad SAW.

Dunia ini dipenuhi dengan hal-hal yang mudah membuat kita berpaling dan lalai dari Allah SWT. Supaya tidak mudah dipalingkan dari Allah SWT, beberapa cara diantaranya adalah sering-sering mendatangi majelis dzikir, majelis ilmu yg didalamnya banyak disebut keagungan Allah SWT, keutamaan Nabi Muhammad SAW dan membaca kalimat “Laa ilaha Illallah”. Perbaharui iman dengan kalimah “Laa ilaha Illallah”.
“Sentiasalah memperbaharui iman kamu.”Para sahabat bertanya, “ Bagaimana kami memperbaharui iman kami, wahai Rasulullah?” Baginda bersabda, “Perbanyakkanlah ucapan LAA ILAHA ILLALLAH” (Hadith riwayat Imam Ahmad).

Pendapat Para Ulama Tentang Maulid Nabi Muhammad SAW:

  1. Ibnu Hajar al-Haithami:
    “Bid’ah yang baik itu sunnah dilakukan, begitu juga memperingati hari maulid Rasulullah”.
  2. Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (guru Imam Nawawi):
    ”Termasuk yang hal baru yang baik dilakukan pada zaman ini adalah apa yang dilakukan tiap tahun bertepatan pada hari kelahiran Rasulullah s.a.w. dengan memberikan sedekah dan kebaikan, menunjukkan rasa gembira dan bahagia, sesungguhnya itu semua berikut menyantuni fakir miskin adalah tanda kecintaan kepada Rasulullah dan penghormatan kepada beliau, begitu juga merupakan bentuk syukur kepada Allah atas diutusnya Rasulullah s.a.w. kepada seluruh alam semesta”.
  3. Imam Al Hafidh Ibn Hajar Al Asqalaniy rahimahullah:
    dalam kitab Fatawa Kubro menjelaskan:”Asal  melakukan maulid adalah bid’ah, tidak diriwayatkan dari ulama salaf dalam tiga abad pertama, akan tetapi didalamnya terkandung kebaikan-kebaikan dan juga kesalahan-kesalahan. Barangsiapa melakukan kebaikan di dalamnya dan menjauhi kesalahan-kesalahan, maka ia telah melakukan buid’ah yang baik (bid’ah hasanah). Saya telah melihat landasan yang kuat dalam hadist sahih Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah s.a.w. datang ke Madina, beliau menemukan orang Yahudi berpuasa pada haru Asyura, maka beliau bertanya kepada mereka, dan mereka menjawab:”Itu hari dimana Allah menenggelamkan Firaun, menyelamatkan Musa, kami berpuasa untuk mensyukuri itu semua. Dari situ dapat diambil kesimpulan bahwa boleh melakukan syukur pada hari tertentu di situ terjadi nikmat yang besar atau terjadi penyelamatan dari mara bahaya, dan dilakukan itu tiap bertepatan pada hari itu. Syukur bisa dilakukan dengan berbagai macam ibadah, seperti sujud, puasa, sedekah, membaca al-Qur’an dll. Apa nikmat paling besar selain kehadiran Rasulullah s.a.w. di muka bumi ini. Maka sebaiknya merayakan maulid dengan melakukan syukur berupa membaca Qur’an, memberi makan fakir miskin, menceritakan keutamaan dan kebaikan Rauslullah yang bisa menggerakkan hati untuk berbuat baik dan amal sholih. Adapun yang dilakukan dengan mendengarkan musik dan memainkan alat musik, maka hukumnya dikembalikan kepada hukum pekerjaan itu, kalau itu mubah maka hukumnya mubah, kalau itu haram maka hukumnya haram dan kalau itu kurang baik maka begitu seterusnya”.
  4. Al-Hafidz al-Iraqi:
    dalam kitab Syarh Mawahib Ladunniyah mengatakan:”Melakukan perayaan, memberi makan orang disunnahkan tiap waktu, apalagi kalau itu disertai dengan rasa gembira dan senang dengan kahadiran Rasulullah s.a.w. pada hari dan bulan itu. Tidaklah sesuatu yang bid’ah selalu makruh dan dilarang, banyak sekali bid’ah yang disunnahkan dan bahkan diwajibkan”.
  5. Imam Suyuti berkata:
    “Menurut saya asal perayaan maulid Nabi SAW, yaitu manusia berkumpul, membaca al-Qur’an dan kisah-kisah teladan Nabi SAW sejak kelahirannya sampai perjalanan hidupnya. Kemudian dihidangkan makanan yang dinikmati bersama, setelah itu mereka pulang. Hanya itu yang dilakukan, tidak lebih. Semua itu tergolong bid’ah hasanah. Orang yang melakukannya diberi pahala karena mengagungkan derajat Nabi SAW, menampakkan suka cita dan kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhamad SAW yang mulia”
  6. Syeh Azhar Husnain Muhammad Makhluf mengatakan:
    ”Menghidupkan malam maulid nabi dan malam-malam bulan Rabiul Awal ini adalah dengan memperbanyak dzikir kepada Allah, memperbanyak syukur dengan nikmat-nikmat yang diturunkan termasuk nikmat dilahirkannya Rasulullah s.a.w. di alam dunia ini. Memperingatinya sebaiknya dengan cara yang santun dan khusu’ dan menjauhi hal-hal yang dilarang agama seperti amalan-amalan bid’ah dan kemungkaran. Dan termasuk cara bersyukur adalah menyantuni orang-orang susah, menjalin silaturrahmi. Cara itu meskipun tidak dilakukan pada zaman Rasulullah s.a.w. dan tidak juga pada masa salaf terdahulu namun baik untuk dilakukan termasuk sunnah hasanah”.
  7. Seorang ulama Turkmenistan Mubasshir al-Thirazi mengatakan:
    ”Mengadakan perayaan maulid nabi Muhammad s.a.w. saat ini bisa jadi merupakan kewajiban yang harus kita laksanakan, untuk mengkonter perayaan-perayaan kotor yang sekarang ini sangat banyak kita temukan di masyarakat”

Beberapa kitab karangan ulama berkaitan dengan maulid Nabi :

  1. Imam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah :
    Dengan karangan maulidnya yang terkenal ”al aruus” juga beliau berkata tentang pembacaan maulid, ”Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu, dan berita gembira dengan tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa yang membacanya serta merayakannya”.
  2. Imam Al Hafidh Al Qasthalaniy rahimahullah.
    Dalam kitabnya Al Mawahibulladunniyyah juz 1 hal 148 cetakan al maktab al islami berkata: ”Maka Allah akan menurukan rahmat Nya kpd orang yang menjadikan hari kelahiran Nabi saw sebagai hari besar”.
  3. Imam al Hafidh Ibn Katsir.
    Yang karangan kitab maulidnya dikenal dengan nama : ”maulid ibn katsir”
  4. Al Imam Hafidz Wajihuddin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad As syaibaniy yang terkenal dengan ibn diba’.
    Dengan maulidnya addiba’i
  5. Al Allamah al Muhaddits Ja’far bin Hasan Al barzanji.
    Dengan maulidnya yang terkenal maulid barzanji
  6. Imam Abdulghaniy Annanablisiy.
    Dengan maulid Al Alam Al Ahmadi fi maulid muhammadi”

Dalil-dalil yang memperbolehkan melakukan perayaan Maulid Nabi s.a.w.

  1. Anjuran bergembira atas rahmat dan karunia Allah kepada kita. Allah SWT berfirman:
    “Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. QS.Yunus:58.
  2. Rasulullah SAW sendiri mensyukuri atas kelahirannya. Dalam sebuah Hadits dinyatakan:
    “Dari Abi Qotadah al-Anshori RA sesungguhnya Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai puasa hari senin. Rasulullah SAW menjawab: Pada hari itu aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku”. (H.R. Muslim, Abud Dawud, Tirmidzi, Nasa’I, Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Ibnu Abi Syaibah dan Baghawi).
  3. Diriwayatkan dari Imam Bukhori bahwa Abu Lahab setiap hari senin diringankan siksanya dengan sebab memerdekakan budak Tsuwaybah sebagai ungkapan kegembiraannya atas kelahiran Rasulullah SAW. Jika Abu Lahab yang non-muslim dan al-Qur’an jelas mencelanya, diringankan siksanya lantaran ungkapan kegembiraan atas kelahiran Rasulullah SAW, maka bagaimana dengan orang yang beragama Islam yang gembira dengan kelahiran Rasulullah SAW.
  4. Allah SWT merayakan hari kelahiran para nabi-Nya.
    “(Isa berkata dari dalam perut ibunya) Salam sejahtera atasku, di hari kelahiranku, dan hari aku wafat, dan hari aku dibangkitkan” (QS Maryam 33)
    “Salam Sejahtera dari kami (untuk Yahya as) dihari kelahirannya, dan hari wafatnya dan hari ia dibangkitkan” (QS Maryam 15)
  5. Rasul saw lahir dengan keadaan sudah dikhitan (Almustadrak ala shahihain hadits no.4177)
  6. Berkata Utsman bin Abil Ash Asstaqafiy dari ibunya yang menjadi pembantunya Aminah ra bunda Nabi saw, ketika Bunda Nabi saw mulai saat saat melahirkan, ia (ibu utsman) melihat bintang bintang mendekat hingga ia takut berjatuhan diatas kepalanya, lalu ia melihat cahaya terang benderang keluar dari Bunda Nabi saw hingga membuat terang benderangnya kamar dan rumah (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583)

Etika merayakan Maulid Nabi :
Untuk menjaga agar perayaan maulid Nabi tidak melenceng dari aturan agama yang benar, sebaiknya perlu diikuti etika-etika berikut:

  1. Mengisi dengan bacaan-bacaan shalawat kepada Rasulullah SAW.
    Allah SWT berfirman:
    “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. QS. Al-Ahzab:56.
  2. Berdzikir dan meningkatkan ibadah kepada Allah.
    Syekh Husnayn Makhluf berkata: “Perayaan maulid harus dilakukan dengan berdzikir kepada Allah SWT, mensyukuri kenikmatan Allah SWT atas kelahiran Rasulullah SAW, dan dilakukan dengan cara yang sopan, khusyu’ serta jauh dari hal-hal yang diharamkan dan bid’ah yang munkar”
  3. Membaca sejarah Rasulullah s.a.w. dan menceritakan kebaikan-kebaikan dan keutamaan-keutamaan beliau.
  4. Memberi sedekah kepada yang membutuhkan atau fakir miskin.
  5. Meningkatkan silaturrahmi.
  6. Menunjukkan rasa gembira dan bahagia dengan merasakan senantiasa kehadiran Rasulullah s.a.w. di tengah-tengah kita.
  7. Mengadakan pengajian atau majlis ta’lim yang berisi anjuran untuk kebaikan dan mensuri tauladani Rasulullah s.a.w.

Hakekat dari perayaan maulid adalah luapan rasa syukur serta penghormatan kepada Rasulullah SAW, sudah semestinya tidak dinodai dengan kemunkaran-kemunkaran dalam merayakannya.

Keutamaan Nabi Muhammad SAW:

  1. Dalam diri Nabi Muhammad SAW terdapat suri teladan yang baik.
    “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.(QS.33, Al-Ahzaab:21)
  2. Nabi Muhammad SAW adalah penutup para Nabi.
    “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”(QS.33, Al-Ahzaab:40)
  3. Karena keutamaanya yang besar, hingga Allah dan para malaikat-Nya pun bershalawat untuk Nabi Muhammad SAW.
    “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”(QS.33, Al-Ahzaab:56)
  4. Nabi Muhammad SAW oleh Allah dijadikan Rahmat bagi alam semesta.
    “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. 21, Al-Anbiyaa’:107)
  5. Kelahirannya telah ditunggu-tunggu oleh umat sebelumnya.
    “Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata””(QS.61, Ash-Shaff:6)
  6. Nabi Muhammad SAW benar-benar berbudi pekerti agung.
    “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”(QS.68, Al- Qalam:4)
    Dalam Shahih Al-Bukhary diriwayatkan, bahwa Nabi SAW menonjol di tengah kaumnya karena perkataannya yang lemah lembut, akhlaknya yang utama, sifat- sifatnya yang mulia. Beliau adalah orang yang paling utama kepribadiannya di tengah kaumnya, paling bagus akhlaknya, paling terhormat dalam pergaulannya dengan tetangga, paling lemah lembut, paling jujur perkataannya, paling terjaga jiwanya, paling terpuji kebaikannya, paling baik amalnya, karena beliau menghimpun semua keadaan yang baik dan sifat-sifat yang diridhai orang lain. Keadaan beliau juga digambarkan Ummul Mukminin Khadijah Ra, “Beliau membawa bebannya sendiri, memberi orang miskin, menjamu tamu dan menolong siapa pun yang hendak menegakkan kebaran.”

    “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min.”(QS.9 At-Taubah:128)

Wassalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

Referensi :

Taiwan – Selasa, 09 Rabiul Akhir 1432 H –  15 Maret 2011.
PCI NU Taiwan

Catatan *:
Disampaikan pada Pengajian Majelis Taklim Yasin Taipei (MTYT) di masjid besar Taipei.
Pengajian Pekan ke-2 dan Maulid Nabi Muhammad SAW – Ahad, 13 Maret 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s