Hak dan Kewajiban suami isteri di dalam Islam

Serial Tausyiah PCI NU Taiwan.
Download File Versi PDF – Hak dan Kewajiban suami isteri di dalam Islam

Hak dan Kewajiban suami isteri di dalam Islam

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh


Islam mengatur hak-hak wanita sebagaimana juga mengatur hak-hak laki-laki. Hal ini disebutkan dengan jelas di dalam Al Quran surat Al Baqoroh ayat 228.

Artinya: Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [QS. Al Baroroh : 228]
Yang dimaksud dengan quru’ dalam ayat tersebut bisa diartikan suci atau haidh. Sedangkan yang dimaksud dengan ’suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya’ adalah karena suami mempunyai tanggungjawab terhadap keselamatan dan kesejahteraan rumah tangga sebagaimana dijelaskan di dalam Al Qur’an surat An Nisaa’ ayat 34.

Artinya: ” Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri [1] ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)[2]. Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya[3], maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya[4]. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar” [QS. An Nisaa’ : 34]

Ayat tersebut menjelaskan bahwa laki-laki mempunyai hak dan kewajiban yang harus mereka berikan kepada wanita. Sebagaimana wanita pun juga mempunyai hak dan kewajiban yang harus mereka berikan kepada laki-laki, seperti yang sudah diperintahkan oleh Allah SWT.

Kelebihan laki-laki diatas wanita seperti yang disebutkan di ayat sebelumnya menunjukkan bahwa laki-laki mempunyai tanggungjawab dan tugas yang lebih banyak daripada tanggungjawab dan tugas wanita.

Seorang suami adalah pemimpin rumah tangga.Seorang suami adalah yang bertanggungjawab untuk menyediakan makanan yang cukup, pakaian, tempat tinggal untuk isteri dan anak-anaknya, dan menyediakan rasa aman kepada isteri dan anak-anaknya dalam kehidupan sehari-hari. Seorang istri tidak berkewajiban untuk menafkahi atau membagi uang yang dimilikinya untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

Di dalam Islam, istri mempunyai hak yang didapat dari suaminya. Hal tersebut dijelaskan di dalam Al Qur’an surat Al Baqoroh ayat 233.

Artinya: ” Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. [QS. Al Baqoroh : 233].

Kewajiban pertama dari seorang suami adalah memberikan nafkah yang cukup untuk istri dan anak-anaknya. Memberikan kecukupan dalam hal makanan, pakaian, dan tempat tinggal.

Hak-hak wanita juga disebutkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika ada salah satu sahabat yang bertanya “Ya Rosulullah, apa hak istri kami terhadap kami?” Nabi menjawab: “Berikan mereka makanan seperti yang engkau makan, berikan pakaian seperti yang engkau pakai, dan jangan kamu pukul mereka, dan jangan mencaci-maki mereka””. (Sunan Abu-Dawud).

Didalam hadist tersebut Nabi Muhammad SAW melarang seorang suami menyakiti istrinya dengan cara apapun. Misalkan memukul istri di wajahnya adalah dilarang di dalam Islam. Seorang suami juga dilarang berkata kasar terhadap istri atau kedua orang tua istri.

Nabi Muhammad SAW memerintahkan kepada kaum lelaki untuk memperlakukan istrinya dengan baik dan sabar. Beliau bersabda ”Kaum mukmin yang paling sempurna keimanannya ialah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kalian ialah yang terbaik kepada istri-istrinya”. (HR. At-Tirmidzi).

Nabi Muhammad SAW juga menganjurkan agar setiap suami bersabar terhadap perilaku buruk isterinya. Nabi bersabda “Barang siapa -diantara para suami- bersabar atas perilaku buruk dari istrinya, maka Allah akan memberinya pahala seperti yang Allah berikan kepada Ayyub a.s atas kesabarannya menanggung penderitaan.” (HR. Nasa`i dan Ibnu Majah).

Jika kondisi pendisiplinan terhadap isteri diperlukan. Maka yang perlu dilakukan seorang suami adalah memberikan nasihat kepada istri, kemudian pisah ranjang (tidak melakukan hubungan seksual dengan isteri). Jika perbuatan isteri sudah kelewatan, boleh memberikan tindakan fisik memukul yang tidak menyakiti istri, tindakan fisik ini untuk menjaga keutuhan rumah tangga, bukan dengan tujuan untuk menyakiti isteri. Jika istri sudah kembali menjalankan aturan Allah SWT dan taat kembali, seorang suami dilarang mencari-cari alasan untuk menyusahkan istri.
Hal ini dijelaskan di Al Qur’an surat An-Nisaa ayat 34 sebagaimana tercantum di atas.

Begitu juga sebaliknya, seorang suami mempunyai hak yang harus diterima dari isterinya. Yaitu seorang isteri harus menaati suaminya dalam segala hal selama sesuai dengan aturan Islam. Seorang isteri harus melaksanakan sesuatu yang disenangi suaminya, dan tidak diperbolehkan menolak ajakan suami tanpa ada alasan yang jelas sesuai dengan aturan Islam. Seorang isteri perlu meminta ijin kepada suami jika akan melaksanakan puasa sunnah. Seperti juga seorang isteri tidak boleh menerima tamu masuk ke dalam rumah tanpa ijin dari suaminya.

Seorang isteri juga perlu meminta ijin suaminya untuk keluar rumah dengan alasan apapun, kecuali untuk sesuatu yang sangat darurat. Tetapi, jika suami memerintahkan isterinya untuk berbuat dosa (maksiat), seorang isteri harus menolak perintah suami, karena didalam prinsip ajaran Islam disebutkan bahwa tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam semua hal jika melawan aturan Allah SWT.

Jika seorang suami mengijinkan seorang isteri pergi keluar rumah selama mengikuti aturan Islam, seorang isteri boleh melakukannya. Bagimanapun juga, seorang isteri harus ingat untuk tetap mengikuti aturan Allah SWT selama di luar rumah, menjaga cara berpakaian sesuai dengan aturan Islam, dan menjaga cara berperilaku terutama ditempat keramaian.

Isteri juga perlu menghias dirinya, menjaga kebersihan dan kecantikan dirinya untuk menyenangkan suaminya. Isteri perlu menyambut kedatangan suaminya dengan gembira saat suaminya pulang ke rumah. Isteri diharapkan untuk menjaga harta suaminya baik ketika suaminya ada di rumah atau tidak ada di rumah. Maksudnya adalah isteri harus membelanjakan harta suaminya untuk keperluan rumah tangga yang seperlunya dan penuh pertimbangan.

Isteri perlu menjaga perasaan dan menghormati suaminya setiap waktu. Isteri harus ingat bahwa suaminya lah yang paling berhak untuk mendapat perhatian, kasih sayang dan ketaatannya. Sehingga sang suami akan memberikan keridhoannya kepada isterinya. Rasulullah SAW pernah bersabda ”Siapa saja wanita yang meninggal dunia dan suaminya ridha kepadanya, maka ia masuk surga.” (Hadits Riwayat Tirmidzi, Ibnu Majah, Hakim).

Selain itu, antara suami dan isteri mempunyai kewajiban untuk saling menasihati dan mengajari tentang Islam. Dan kewajiban yang sama untuk taat kepada Allah SWT. Untuk menjaga keharmonisan rumah tangga, keduanya harus belajar untuk saling memaafkan jika ada kesalahan dan belajar untuk disiplin.

Semoga Allah SWT memberika kemudahan kepada kita semua khususnya kepada saudara saudari kami yang saat ini sedang bekerja dan belajar di Taiwan. Semoga Allah SWT memudahkan kita untuk menjaga keharmonisan rumah tangga kita. Bagi yang belum mempunyai suami atau isteri, semoga Allah SWT mempertemukan dengan suami yang sholih atau isteri yang sholihah, amin.

Mari kita tutup dengan doa,
”Rabbana Hablana Minazwaajinaa Wadzurriyyatina Qurrota a’yun Waj’alnaa Lilmuttaqiina imaama”. Artinya ”Ya Tuhan kami, Berilah kami Isteri kami, anak cucu kami semua menggembirakan hati dan jadikanlah kami sebagai ikutan orang-orang yang taqwa”.

Amin Ya Robbal ’Alamiin.

Wassalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

Catatan:
[1] : Maksudnya: Tidak berlaku curang serta memelihara rahasia dan harta suaminya.
[2] : Maksudnya: Allah telah mewajibkan kepada suami untuk mempergauli isterinya dengan baik.
[3] : Nusyuz: yaitu meninggalkan kewajiban bersuami isteri. Nusyuz dari pihak isteri seperti meninggalkan rumah tanpa izin suaminya.
[4] : Maksudnya: untuk memberi peljaran kepada isteri yang dikhawatirkan pembangkangannya haruslah mula-mula diberi nasehat, bila nasehat tidak bermanfaat barulah dipisahkan dari tempat tidur mereka, bila tidak bermanfaat juga barulah dibolehkan memukul mereka dengan pukulan yang tidak meninggalkan bekas. Bila cara pertama telah ada manfaatnya janganlah dijalankan cara yang lain dan seterusnya.

Taiwan – Selasa, 23 Nopember 2010.
PCI NU Taiwan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s