KH Idham Chalid, Politisi Lentur yang Alim & Rendah Hati

Sumber : Detik.com
Kabar duka menyelimuti kaum muslimin tanah air khususnya warga Nahdliyin pada Minggu 12 Juli 2010. Mantan Ketua Umum PBNU KH Idham Chalid selama 28 tahun kembali ke pangkuan Allah SWT dengan tenang setelah sekitar sepuluh tahunan terakhir mengidap penyakit komplikasi.

Ucapan bela sungkawa dari berbagai kalangan, baik politisi, santri dan para kiai termasuk Presiden SBY pun berdatangan. Bahkan Presiden SBY kabarnya juga akan memimpin langsung upacara pemakaman mantan ketua DPR/MPR dan berbagai posisi kementerian di zaman Soekarno dan Soeharto ini.

Berita wafatnya KH Idham Chalid ini pun mengingatkan saya pada sosok besar mantan Presiden RI yang juga mantan Ketua Umum PBNU 3 periode KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Keduanya memang memiliki perbedaan sebagaimana fitrahnya sebagai manusia. Namun, bagi saya keduanya juga banyak memiliki kesamaan.
Beberapa catatan penulis atas 2 sosok tokoh besar ini antara lain soal kesamaannya dalam hal kemampuannya dan diakuinya di kalangan warga Nahdliyin. Baik KH Idham maupun Gus Dur sama-sama menjadi ketua umum PBNU yang ‘berhasil’ dan bertahan cukup panjang serta diakui kiprahnya oleh bangsa ini.

Meski secara tahun KH Idham lebih lama yakni 28 tahun atau hampir 6 periode
(1956 – 1984) memimpin PBNU daripada Gus Dur yang hanya 3 periode, namun keduanya meninggalkan bekas dan catatan sejarah yang sama-sama luar biasa. KH Idham berhasil membawa dan menyelamatkan NU dari hiruk-pikuk politik nasional dalam pergantian rezim dari era Soekarno ke era Soeharto. Hal yang sama juga dilakukan oleh Gus Dur saat menggawangi NU dalam masa gerakan reformasi 1998 yang berakhir dengan tergulingnya Presiden 32 tahun Soeharto.

Keduanya juga menjadi orang penting di negeri ini dengan berbagai jabatan bergengsi yang pernah disandangnya. Gus Dur pernah menjadi Presiden RI ke 4 yang terpilih secara demokratis dan KH Idham menduduki berbagai jabatan penting sejak zaman Pemerintahan Bung Karno sampai Soeharto.

Menurut buku ‘Napak Tilas Pengabdian Idham Chalid’ yang disunting oleh politisi PPP, Dr Arief Mudatsir Mandan, kiprah dan peran Idham Chalid tergolong istimewa. Ia bukanlah sosok yang berasal dari warga kota besar dan keluarga darah biru sebagaimana yang dipahami oleh kiai di Jawa seperti Gus Dur yang keturunan langsung dari pendiri NU KH Hasyim Asy’ari.

KH Idham Chalid hanyalah putra kampung yang merintis karier dari tingkat yang paling bawah, sebagai guru agama di kampungnya. Namun kegigihannya dalam berjuang, dan kesungguhannya untuk belajar dan menempa diri mengantarnya ke puncak kepemimpinan nasional yang disegani dan dihormati.

Para pengamat politik di tanah air banyak mencatat sosok pria kerkacamata ini sebagai salah seorang dari sedikit politisi Indonesia yang mampu bertahan pada segala zaman dan cuaca. Ia pernah menjadi Ketua Partai Masyumi di Amuntai, Kalimantan Selatan. Dia juga aktif di Partai NU sehingga dalam Pemilu 1955 dia berkampanye luar biasa untuk Partai NU. Ia pernah pula menjadi Wakil Perdana Menteri dalam Kabinet Ali-Roem-Idham, dalam usia yang masih sangat belia yakni 34 tahun. Sejak itu Idham Chalid terus menerus berada dalam lingkaran kekuasaan.

Di bidang organisasi, Idham muda pernah dipercaya warga Nahdliyyin untuk memimpin NU selama 28 tahun di tengah cuaca politik yang sulit. Dengan kemampuannya di bidang manajerial organisasi dan keilmuan, Idham berhasil menjadi pemimpin NU terlama sebagai Ketua Umum Tanfidziah PBNU selama 28 tahun (1956 – 1984). Di samping berada di puncak kekuasaan pimpinan NU, ia juga dipercaya menjadi Wakil Perdana Menteri II dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo (PNI), 1956 – 1957. Saat kekuasaan Bung Karno jatuh pada 1966, Idham Chalid yang dinilai dekat dengan Bung Karno ini tetap mampu bertahan.

Bahkan, Presiden Soeharto memberinya kepercayaan selaku Menteri Kesejahteraan Rakyat (1967 – 1970), Menteri Sosial Ad Interim (1970 – 1971) dan setelah itu Ketua MPR/DPR RI (1971 – 1977) serta Ketua DPA (1977 – 1983). Dalam bidang politik, setelah kenyang dengan pengalaman di partai Masyumi dan NU, ketika partai-partai Islam berfusi dalam Partai Persatuan Pembangunan, pada tanggal 5 Januari 1973, mantan guru agama Pondok Pesantren Modern Gontor Ponorogo ini menjadi ketua, sekaligus Presiden PPP.

Dalam buku tersebut Arief Mudatsir menjelaskan bahwa sosok Idham memang cukup mumpuni dalam berbagai bidang. Dari sisi wawasan keilmuwan dan kemahiran, sosok Idham Chalid dikenal sebagai ulama yang mahir berbahasa Arab, Inggris, Belanda, dan Jepang. Ia juga menyandang gelar doctor honoris causa dari Universitas Al-Azhar, Kairo. Arief pun menilai Langkah-langkah cerdik dan cermat yang dilakukan oleh pemimpin seperti KH Idham Chalid semacam itu perlu dipelajari oleh generasi sekarang ini.

Kerendahan hati merupakan sifat Kiai Idham Chalid, tidak hanya pada para kiai, pada orang biasapun bisa bergaul dengan supel. Ia selalu menjalin hubungan dengan berbagai kalangan dan akrab dengan siapa saja. Sikap ramah dan simpatik itulah salah satu modal kesuksesan kepemimpinannya sehingga bertahan dalam waktu yang cukup lama.

Karier KH Idham di PBNU yang selama 28 tahun diakhiri pada tahun 1984. Pada
tahun 1984, posisi Kiai Idham di PBNU digantikan oleh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang ditandai dengan fase kembalinya NU ke Khittah 1926 dalam muktamar di Situbondo Jawa Timur.

KH Idham Chalid yang lahir pada tanggal 27 Agustus 1922 di Setui, dekat Kecamatan Kotabaru, bagian tenggara Kalimantan Selatan, adalah anak sulung dari lima bersaudara. Ayahnya H Muhammad Chalid, penghulu asal Amuntai, Hulu Sungai Tengah, sekitar 200 km dari Banjarmasin.

Saat usianya baru enam tahun, keluarganya hijrah ke Amuntai dan tinggal di daerah Tangga Ulin, kampung halaman leluhur ayahnya. Selain tercatat sebagai salah satu tokoh besar bangsa ini pada zaman Orde Lama maupun Orde Baru. Kiai Idham juga tercatat sebagai “Bapak” pendiri Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Setelah tidak berkiprah di panggung politik praktis yang telah membesarkan namanya, waktunya dihabiskan bersama keluarga dengan mengelola Pesantren Daarul Maarif di bilangan Cipete.

Selamat Jalan Pak Kiai …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s