FOSPI – Menebar Jala Demi Keluarga

Forum silaturahmi pelaut Indonesia (FOSPI) yang berlokasi di kota Nankang, ujung selatan Taiwan untuk kesekian kalinya mengadakan acara silaturahmi dengan PCI NU,  dimana FOSPI adalah salah satu organsasi bimbingan PCI NU Taiwan .Berbeda dengan kegiatan sebelum-sebelumnya, kegiatan kali ini terasa lebih komplet karena tidak hanya perwakilan PCI NU (Ely Susanto) saja yang datang melainkan juga perwakilan dari Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia, yang diwakili Pak Burman, Direktur Konseling mas Habib dan Mas Bintang. Selain beramah tamah dengan perwakilan KDEI dan pengurus organisasi lainnya, FOSPI juga mengundang Bapak Ali Mutasowifin, dosen IPB yang sedang mengambil S3 di Taiwan untuk memberikan tip-tip berwirausaha pasca bekerja di Taiwan. Untuk menuju ke Nankang, pengurus FOSPI yang diketuai oleh Mas Rano dengan pembina Ustadz Mukhsin menyewa mobil Van yang muat untuk 10 orang lebih. Perjalanan dari Kaohsiung ke Nankang ditempuh kurang lebih 40 menit.

Sesampai di sana, terlihat beberapa ABK yang sedang nonton acara TV di beberapa warung Indonesia sambil menikmati makanan khas Indonesia. Mobil berhenti tepat di depan warung Indonesia. Ketika keluar dari mobil, suasana tepi pantai mulai terasa. Beberapa kapal ikan terlihat tertambat di tepi sungai. “Selamat datang mas, gimana kabarnya?” sapa salah seorang ABK sambil menjulurkan tangannya ke saya untuk berjabat tangan. “Alhamdulillah mas” jawab saya sambil mengingat-ingat nama dia. Maklum banyak sekali jamaah yang hadir ketika pertama kali saya bersilaturahmi dengan mereka sehingga sulit untuk menghapalkan nama mereka satu persatu. “ mari mas, langsung masuk ke warung” ajak mas Rano. Ada beberapa rekan FOSPI yang menyambut kita dan mengajaknya masuk ke salah satu warung Indonesia, yang lokasinya tidak jauh dari Mushola. Menurut mas Rano, ada sekitar 10 warung Indonesia yang melayani ABK di Nankang.

Sambil membetulkan tas punggung, saya berjalan masuk ke warung Indonesia. Dari luar saya bisa melihat sebuah meja panjang, yang di atasnya penuh dengan makanan. Ikan gembung dibakar dengan lalapan ketimun diletakkan di atas piring bersanding dengan semangkok soto. Tak ketinggalan botol-botol minuman aqua beserta gelasnya turut memenuhi meja makan tersebut. Suasana keakraban semakin terasa ketika beberapa pengurus FOSPI bergabung di meja makan. Sambil makan, pertanyaan-pertanyaan dari rekan-rekan FOSPI sering dilontarkan. Kadang ke Pak Burman, ke saya atau ke Mas Bintang.

Sekitar jam 8 kurang 15 menit, kita berangkat menuju Mushola, tempat di mana acara silaturahmi akan dilakukan. Berhubung jaraknya dekat, kita berjalan kaki. Ada sekitar 15-an orang jalan bareng bersama menuju mushola. Tak sampai 5 menit kita sudah sampai mushola. Jangan di bayangkan bentuk musholanya seperti kebanyakan mushola di Indonesia. Mushola yang digunakan teman-teman FOSPI merupakan hasil modifikasi dari rumah yang disewa mereka, karena memang di Nankang belum ada mushola atau masjid. Rumah tersebut terdiri dari 3 lantai. Mereka hanya menyewa lantai dua, karena lantai tiga digunakan pemilik rumah untuk melakukan ritual, sedang lantai satu disewa orang lain untuk berjualan. Perbulan mereka harus membayar 4500 NT (mata uang Taiwan). Belakangan, menurut ketua FOSPI, pemilik rumah menginginkan agar teman-teman FOSPI juga menyewa lantai satu. Jika ditotal, perbulan mereka akan harus mengeluarkan uang sewa sekitar 9000NT belum termasuk uang listrik dan air.

Berhubung tangganya sempit kita naik ke atas secara bergantian. Terlihat banyak sandal berserakan. Ini menandakan jamaah yang menunggu rombongan kita banyak. Ternyata apa yang menjadi dugaan saya benar. Terlihat dari bawah, beberapa jamaah dengan baju koko dengan peci berwarna-warni bersalaman dengan Pak Burman. Saking banyaknya jamaah, mushola tersebut terasa sesak dan hampir tak sanggup menampung jumlah jamaah. Karena ada beberapa jamaah yang baru melakukan sholat, kita tidak langsung menuju mushola namun dipersilahkan masuk ke ruang tamu.

Lantai dua yang mereka sewa terdiri dari 3 ruang. Ruang yang paling besar digunakan sebagai mushola, ruang yang agak sedang digunakan untuk ruang ganti dan ruang pakaian, sedang ruangan yang paling kecil digunakan untuk ruang tamu. Di ruang tamu ada separangkat meja kursi dan satu set komputer pemberian PCI NU (Mbak Mia).

Setelah mereka selesai sholat, salah seorang jamaah Majelis Taklim An Nur mengajak kita masuk ke mushola. Sambil mengucapkan salam dan berjabat tangan kita masuk dan duduk menghadap jamaah. Ada sekitar 80-an lebih jamaah yang hadir di acara ini. Saking banyaknya, ruangan mushola tidak mampu menampung keseluruhan jamaah yang hadir. Beberapa jamaah terlihat duduk di luar ruangan mushola. Untuk ukuran di Taiwan, ruangan yang digunakan sebagai mushola lumayan besar. Ruangan ini sanggup untuk menampung 80-an jamaah. Yang jadi masalah buat mereka adalah tempat wudlunya yang hanya satu sehingga mereka harus antri. Akibatnya, jadwal sholat sering mundur.

Sekitar jam delapan, acara dimulai dan dipandu oleh mas Rano. Dengan bacaan Bismillahirrahmanirrahim acara silaturahmi dibuka. Setelah pembukaan acara berikutnya adalah sambutan. Sambutan yang pertama disampaikan oleh Ustadz Mukhsin selaku Pembina FOSPI dan Majelin Taklim An Nur dan dilanjutkan oleh Mas Rano selaku ketua FOSPI. Pak Burman yang mewakili KDEI mendapat giliran sambutan ketiga. Sambutan ke empat disampaikan oleh Mas Habib selaku direktur konseling, yang bertanggung jawab langsung ke KDEI, yang wilayah tugasnya mencakup Kaohsiung, pintung dan sekitarnya. Sambutan terakhir dari saya yang mewakili PCI NU.

Setelah sambutan, acara berikutnya adalah acara inti yaitu tausiah yang disampaikan oleh Bapak Ali Mutasowifin. Dalam tausiahnya, Pak Ali mengajak kita semua untuk memanfaatkan hidup sebaik mungkin karena pada dasarnya kita tidak tahu kapan kontrak hidup kita berakhir. Pak Ali juga mengajak teman-teman FOSPI untuk mengumpulkan modal usaha yang nantinya bisa digunakan untuk merintis usaha kelak juga sudah pulang ke Indonesia. Ada 3 tips yang disampaikan Pak Ali untuk memulai sebuah usaha. Yang pertama, differensiasi produk/produk yang inovatif. Produk yang ditawarkan harus mempunyai keunikan dibanding produk lain. Misalnya, ada penjual bakso yang larisnya bukan main gara-gara baksonya berbentuk kotak. Dengan merubah bentuk bakso yang awalnya bundar menjadi kotak ternyata sudah bisa digunakan untuk mendiferensiasi produk, yang selanjutnya bisa menarik konsumen. Kedua, melakukan usaha di mana orang lain belum melakukan. Jangan terbawa arus orang lain. Misalnya orang A berbisnis B dan laris kemudian kita ikut-ikutan berbisnis B. Produk ketela dengan multi rasa misalnya, bisa dijadikan contoh tentang bagaimana seorang wirausahawan harus memulai usaha dengan menciptakan produk yang orang lain bahkan belum berpikir untuk membikinnya. Ketiga, jangan putus asa ketika gagal. Sebagai wirausahawan, kita harus tahan mengahadapi kegagalan. Pengusaha-pengusaha yang sekarang sukses juga sering mengalami kegagalan di awal-awal ketika mereka membuka usahannya.

Sehabis acara silaturahmi, kita dan beberapa pengurus FOSPI menjenguk salah seorang ABK yang dirawat di rumah sakit. Jarak dari mushola ke rumah sakit tidak terlalu jauh, sekitar 10 menitan. Menurut salah seorang dari mereka, mas supriyono, nama ABK yang sakit, sudah 4 hari menjalani rawat inap di rumah sakit. Yang membuat dia sedih adalah tidak ada orang yang menjaga sehari penuh karena mereka semua harus bekerja. Mas Supriyono harus di rawat inap karena dari dalam tubuhnya mengeluarkan nanah. Awalnya mereka mengira mas supriyono sudah dioperasi, namun setelah bertemu dan berdiskusi dengan dokter, mas supriyono belum dioperasi. Pahanya hanya dibuka sedikit untuk mengeluarkan nanah. Dokter sendiri belum berhasil mengidentifikasikan jenis penyakitnya apa meskipun sudah menangangani selama 4 hari. Setelah dirasa cukup akhirnya kita pamit pulang sambil berpesan semoga cepat sembuh.(Ely Susanto)

 dimana FOSPI adalah salah satu organsasi bimbingan PCI NU

6 thoughts on “FOSPI – Menebar Jala Demi Keluarga

  1. WahSangat salut dan terharu sekali saya melihat rekan-rekan dari FOSPI ini,yang begitu semangatnya semoga tetap Istiqamah…

  2. Semoga kegiatan Mushola An Nur dapat terus ditingkatkan, sehingga akan dapat selalu menjadi cahaya bagi seluruh jamaahnya dalam menebar cahaya, menggapai ridla Illahi. Amin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s