Permasalahan TKI di Taiwan

Meskipun TKI mempunyai kontribusi yang luar biasa terhadap ekonomi Taiwan dan masyarakat Taiwan secara keseluruhan, TKI sesungguhnya menghadapi berbagai macam hambatan dalam beradapatsi dengan lingkungan baru, antara lain bahasa, keyakinan agama, keluarga, adat dan budaya. Sehingga peran agency sangatlah menentukan dalam segala hal di lapangan. Keberpihakkan dan keadilan terhadap TKI adalah kunci utama dalam menjalankan fungsi sebagai agency.

Namun pada kenyataannya, tidak semua agency berlaku jujur disetiap pembuatan kontrak kerja. Beberapa agency meminta tambahan biaya diluar komitmen yang tertulis di kontrak kerja. Kasus pekerjaan yang tidak sesuai dengan kontrak kerja mendominasi masalah TKI yang bekerja di Taiwan. Masalah lain yang juga menonjol adalah suasana kerja yang tidak sesuai kontrak atau kewajaran, gaji tidak dibayar oleh majikan atau gaji dibayar tidak teratur, perlakuan kasar majikan, dan pelecehan seksual. Data tersebut diungkapkan oleh Ade Gagah Azis, Kepala Bidang Imigrasi pada Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei, dalam rilis yang diterima Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), awal bulan April 2009 (http://bnp2tki.go.id).

Tahun 2004 jumlah TKI yang kabur dari rumah majikan mereka di Taiwan mencapai 4.000 orang, tahun 2005 bertambah menjadi 5.000 orang, tahun 2008 hingga akhir Juli, jumlah TKI yang kabur dari rumah majikan sudah mencapai 6.175 orang (sekitar 5% dari jumlah total TKI). Disamping itu, pada tahun 2007, 13 orang TKI meninggal secara wajar dan karena kecelakaan kerja, serta satu orang bunuh diri (The Sunday Post 19 August 2007).

Khusus untuk TKI kaburan, apabila ditangkap polisi, mereka akan dimasukkan penjara sambil menunggu proses pengadilan berlangsung. Setelah membayar denda sebesar 30.000 s/d 150.000 NT$, kemudian mereka dipulangkan secara paksa dan di black list selama 5 (lima) tahun tidak diperbolehkan memasuki wilyah Taiwan.

Menurut Jumhur Kepala BNP2TKI dalam acara Public Corner yang ditayangkan langsung oleh Metro TV, Jumat (31 October 2008), permasalahan TKI muncul terutama dari hulu (proses pemberangkatan). Rekruitmen calon TKI melalui calo-calo telah menyebabkan mereka menemui banyak masalah di luar negeri.

Berdasarkan survey yang kami (PCI-NU) laksanakan beberapa waktu lalu, bahwa TKI berangkat ke Taiwan dengan mengeluarkan dana yang cukup besar ke perusahaan jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI). Rata-rata sekitar Rp. 30-40 juta untuk bekerja di perusahaan dan Rp. 3 juta untuk bekerja sebagai PRT (termasuk pengasuh bayi dan perawat orang lanjut usia). Setelah bekerja di Taiwan, agency  masih memotong gaji mereka tiap bulannya dengan bermacam alasan, dan rata-rata mereka di  potong gajinya selama 8-12 bulan, sedangkan gaji pokonya hanya 17.500 NTD.

Sebagai contoh, TKI yang bekerja sebagai pengasuh bayi (baby sitter) atau perawat orang lanjut usia mendapat gaji 15.500 NTD (New Taiwan Dollar) atau sekitar Rp 4,5 juta per bulan. Namun itu baru penghasilan kotor, karena upah mereka harus dipotong pajak 20% selama enam bulan pertama, membayar biaya administrasi 4.000 NT untuk agency tenaga kerja di Taiwan, asuransi kesehatan 210 NT per bulan, dan menyimpan uang jaminan di Chinatrust Bank sebesar Rp 2.000 NT untuk masa 15 bulan. Baru pada tahun ketiga dan keempat mereka bisa mengumpulkan upah bersih Rp 4 juta/bulan.

Eksploitasi TKI juga terjadi di Taiwan (The China Post 6 Februari 2009). Modus kejahatan yang dilakukan agensi tersebut adalah dengan cara tidak memberikan upah secara penuh terhadap pekerja. Dalam penyelidikan diketahui bahwa pembayaran upah bulan pertama hanya sebesar 1800 NT. Pada bulan kedua sampai keenam, pekerja memperoleh upah sebesar 3500 NT. Pada bulan ketujuh hingga ke-18, pekerja memperoleh upah sebesar 5400 NT perbulan. Tidak hanya itu, ketika TKI sudah berada di Taiwan, mereka di paksa menyerahkan uang sebesar 200.000 NT sebagai “biaya tambahan administrasi” untuk pengurusan dokumen. Bila menolak, para agensi tersebut mengancam akan memulangkan kembali para TKI ke Indonesia dan mengancam akan menuntut keluarga asal para pekerja tersebut.

Ditulis oleh Setiyo Gunawan.

Penulis adalah tenaga kerja Indonesia (TKI) di sektor formal (Post Doctoral Fellowship, Taiwan Tech, Taipei, Taiwan).

One thought on “Permasalahan TKI di Taiwan

  1. sebaiknya pada setiap agen yang ada. harusada pembukuan mengenai prosedur dan proses tki ke taiwan. yag dipajang di setiap dinding pengumuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s