Isu Pengharaman Facebook Tidak Benar

Isu yang beredar tentang pengharaman facebook, sebuah jaringan komunikasi dunia maya, oleh ulama di Jawa Timur yang tersebar di sejumlah media massa ditepis oleh Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri (FMP3) se-Jawa Timur.
Hasil bahtsul masail diniyah atau pembahasan masalah keagamaan yang diselenggarakan forum itu pada 20-21 Mei 2009 lalu di Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadiat Lirboyo Kediri tidak memberikan fatwa haram menggunakan facebook. Beberapa wartawan yang meliput acara ini salah faham dan hanya mengambil aspek yang sensasionalnya saja.Juru bicara FMP3 Muchammad Nabil Haroen kepada NU Online, Jum’at (29/5) menyatakan, forum bahtsul masail itu sebenarnya menjawab pertanyaan seputar bagaimana hukum Islam menyikapi hubungan laki-laki dan perempuan yang ”over intim” melalui jaringan komunikasi modern berupa audio call, video call, SMS, 3G, Chatting, Friendster, dan Facebook, padahal mereka tidak terikat pernikahan?

Dalam bahtsul masail itu diputuskan bahwa komunikasi dengan lat modern itu pada dasarnya sama dengan komunikasi secara langsung. Hukum komunikasi dengan lawan jenis tidak diperbolehkan kecuali ada hajat seperti dalam rangka khitbah (pertunangan).
“Mengenai pengenalan karakter dan penjajakan lebih jauh terhadap lawan jenis tidak dapat dikategorikan hajat karena belum ada ‘azm (keinginan kuat untuk menikahi orang tertentu). Sedang hubungan via 3G juga tidak diperbolehkan bila menimbulkan syahwat atau fitnah,” demikian dalam teks hasil bahtsul masail yang diterima NU Online.
Materi umum dalam pertanyaan itu sebenarnya terkait dengan hukum berpacaran atau dalam istilah lain disebut pendekatan atau PDKT. Ini tidak diperbolehkan jika hanya untuk main-main dan tidak dalam rangka pernikahan. Sementara facebook dan lainnya adalah beberapa peralatan komunikasi yang digunakan dan status hukumnya sama dengan berkomunikasi langsung.
Menurut Nabil yang juga pemimpin redaksi Majalah MISYKAT Pondok Pesantren Lirboyo itu, dirinya memang sempat dihubungi oleh beberapa wartawan menanyakan hasil bahtsul masail itu, dan dirinya menjelaskan hasil bahtsul masail itu apa adanya.
”Saya dikontak beberapa wartawan, termasuk wartawan internasional. Namun saya terkejut ketika membaca beritanya. Bahkan saya membaca pertama kali dari AP (The Associated Press, sebuah jaringan media massa internasional). Keesokan harinya banyak media internasional dan nasional yang memberitakan seperti itu (facebook haram, red),” katanya
Ditambahkannya, bahtsul masail ke-11 FMP3 yang dihadiri sekitar 700 peserta dari pondok pesantren putri itu sebenarnya tidak hanya membahas persoalan persoalan PDKT. Masalah lain yang dibahas dalam bahtsul masail itu adalah soal status hukum bagi anak zina terutama terkait wali nikahnya, pemajangan gambar caleg wanita, beberapa dilema yang dihadapi perempuan dalam masa iddah dan persoalan lainnya perpektif hukum Islam yang digali dari beberapa sumber referensi “kitab kuning” yang dikaji di pokdok pesantren.
Menurut Nabil, fenomena dukun cilik Ponari dari Jombang yang sempat menjadi perbincangan utama di media massa Indonesia juga menjadi pembahasan menarik dalam bahtsul masail FMP3 itu. (nam)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s