Dupa dan Buah Sembahyangan

Assalammu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Pak ustad, saya adalah warga negara indonesia yang telah menikah dengan lelaki muslim Taiwan. Keluarga suami saya (seperti Orang tuanya) bukanlah muslim, mereka sering menggelar acara-acara sembahyangan sebagaimana budaya Taiwan (seperti membakar uang, dupa dsb).  Hal yang akan saya tanyakan adalah:

  1. Bagaimana hukum memegang dupa atau ikut sembahyang sebagai penghormatan buat mertua yang non muslim?
  2. Bagaimana hukumnya memakan buah sembahyangan?

Saya mohon penjelasan pak ustad. Terima kasih.

Wassalammu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh

 Jawaban:

Assalammu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.

Dalam hidup ini, kita mengenal istilah kerukunan antar umat beragama. Artinya kita harus bisa menghormati dan bergaul dengan baik dengan pemeluk agama lain, terlebih jika mereka saudara kita sendiri. Namun dalam kerukunan beragama itu juga terdapat batas-batas toleransi yang tidak bisa dilewati. Jika kita bergaul, bersosialisasi dengan mereka yang non muslim itu adalah suatu hal yang baik, namun tidak sampai melakukan ritual-ritual ibadah agama yang mereka anut. Karena batas toleransi yang digariskan oleh Islam tidak menjangkau wilayah itu. Di samping itu jika kita ikut sembahyang sesuai dengan keyakinan mereka, bisa jadi kita melakukan hal yang berbau syirik/ menyekutukan Tuhan (Allah).  al-kaafiruun2artinya:  Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah. Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. 109: 1-6) Surat Al Kaafirun

Mengenai status buah sembahyangan (sesaji) hukumnya tetap halal dikonsumsi. Hanya saja jika kita mau memakannya perlu kita lihat status kepemilikan buah tersebut. Jika sesaji itu milik orang lain, lalu kita memakannya tanpa seizin pemiliknya, hukumnya tidak diperbolehkan/ haram. Namun haramnya bukan karena itu buah sesaji, namun karena kita memakan sesuatu tanpa seizin pemiliknya (mencuri).

Semoga bermanfaat.

Wassalammu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s