Mengapa Harus Antipati dengan Barat?

Gaung anti-Barat (baca: Amerika, Eropa dll) hingga hari masih saja kita dengar. Slogan-slogan menolak apa saja yang dimiliki oleh orang Barat –beginilah orang Asia menyebut. Budaya Barat seperti cara berpakaian, budaya, adat istiadat, bahkan produk pun acapkali ditolak. Satu-satunya alasan untuk menolak semua itu adalah agar tidak terjerumus dengan perbuatan munkar. Benarkah?

Saya pernah bertemu dengan seseorang alumni sebuah pesantren di Jogja, sebut saja Pak Miftah. Ia memiliki anak gadis yang baru saja lulus SMU dan ditawari untuk masuk ke beberapa perguruan tinggi ternama di Semarang. Karena nilai yang dimiliki cukup bagus ia lulus seleksi di dua fakultas dan universitas yang berbeda. Pertama, ia diterima untuk belajar sastra Inggris, kedua ia diberi kesempatan pula untuk mengenyam pendidikan tentang sastra Arab.

Kebetulan waktu itu saya sedang silaturrahim Idul Fitri. Seusai sungkem (adat minta maaf Jawa), Pak Miftah bercerita pendidikan anak gadisnya. Ia menuturkan bahwa dia tidak suka jika anaknya belajar bahasa Inggris. Kemudian saya bertanya, ”Mengapa?” Ia pun menjawab, ”Bahasa Inggris kan bahasanya orang kafir, ngapain belajar Inggris segala? Anak saya saya suruh masuk fakultas lain saja.”

Sejenak saya berfikir dan teringat sesuatu yang pernah guru saya sampaikan. Entah itu sebuah hadis ataukah pepatah ulama salaf, Man arafa lughata qaumin salima min makrihi.

Artinya: ”Barangsiapa mengetahui (paham) bahasa suatu kaum, niscaya dia akan selamat dari tipu daya (kaum itu).”

Kemudian kata-kata ini saya sampaikan pada Pak Miftah. Dia saya ajak berdiskusi soal ’bahasa orang kafir’ ini. ”Begini Pak Miftah, bagaimana jika suatu hari anak bapak bertemu relasinya dan dia tak bisa berbahasa Indonesia dan hanya bisa dengan berbahasa Inggris? Jika hal itu berhubungan dengan bisnis, bukankah itu sebuah kerugian?” saya mulai berujar.

”Gampang, kenapa bingung. Tinggal cari asisten penerjemah. Dalam hubungan bisnis itu kan biasa pakai penerjemah. Wong, presiden juga kadang pakai penerjemah.” Sanggah Pak Miftah.

”Apakah Bapak tidak lupa dengan ucapan Bapak sendiri? Bukankah penerjemah itu juga belajar bahasa orang kafir?” kembali saya menyanggah ucapan Pak Miftah. Dia hanya diam mendengar jawaban saya. Kemudian saya pun berlanjut, ”Apakah tidak lebih baik bisa berbahasa Inggris? Kan tidak perlu sewa penerjemah, hemat biaya. Bukankah presiden kita juga menganjurkan budaya hidup hemat?”

Kemudian perbincangan kami terhenti sejenak ketika seorang pembantu Pak Miftah mengantarkan dua gelas kopi hangat. ”Mari diminum,” ajak Pak Miftah. Seusai mencicipi kopi, saya lanjutkan obrolan, ”Seandainya ada penerjemah, bisa saja kita ditipu oleh penerjemah itu. Sebab sekarang susah cari orang jujur. Terus bagaimana? Bukankah lebih baik tahu dan paham ’bahasa orang kafir’ itu, dan kita tidak larut dala tipu dayanya?”

Waktu sudah beranjak malam, dan saya pun pamit. Obrolan malam itu masih teringat di benak saya hingga kini. Meski anak gadis Pak Miftah telah masuk sastra Arab, obrolan saat itu paling tidak akan sedikit mengubah sudut pandang Pak Miftah tentang Barat.

Itu baru sekelumit tentang komponen budaya Barat. Tidak sedikit budaya Barat yang semestinya kita tiru. Seperti kedisiplinan, ketaatan pada hukum, penghormatan kepada orang cacat dan lain sebagainya. Jika Anda sebentar saja pergi ke Eropa atau Amerika, pasti Anda akan tahu betapa negara kita tidak disiplin. Di Amerika orang cacat pun bisa naik bus sendiri, karena pihak armada bus mendesain busnya sedemikian rupa.

Saya juga ingat cerita Gus Mus ketika di Jerman. Waktu itu Gus Mus malu dengan anjing orang kafir. Di tengah malam, waktu itu Gus Mus terhenti di zebra cross karena lampu merah. Di sampingnya ada anjing dan majikannya juga tengah menunggu lampu hijau menyala. Padahal, tidak ada satupun mobil yang melintas malam itu. Dan ketika lampu hijau menyala, Si Anjing lari dengan cepatnya. Gus Mus pun malu, di Indonesia orang tidak begitu menghormati lampu merah –bahkan menerobosnya-, justru anjing orang kafir tahu dan menghormati lampu merah.

 

Bagaimana Persepsi Terhadap Barat?

Memang banyak budaya Barat yang tidak perlu ditiru, misal berpakaian dengan membuka aurat, minum alkohol, narkotika dll. Namun tidak bisa semuanya kita anggap buruk. Seperti halnya polisi yang dikatakan buruk. Sebenarnya tidak semua polisi buruk, tapi banyak oknum polisi yang mengotori citra lembaganya. So, Barat juga tidak buruk tapi memang banyak yang buruk. Akan lebih baik jika kita bisa mengambil sesuatu yang di lingkungan yang notabene buruk. Menggapai setetes pahala di antara lautan dosa.

Tentang hal yang dianggap baik, saya juga mempunyai pemahaman terbalik. Relakah jika pesantren atau Islam dianggap teroris? Tentu tidak. Relakah jika para kiai kita dianggap hanya berpolitik dan mencari uang? Tentu tidak.

Memang pesantren atau Islam pada dasarnya baik, namun ada sedikit oknum pesantren atau Muslim yang mengotori citra Islam. Memang para kiai berpolitik demi dakwah, syiar Islam, dan menyelamatkan bangsa ini. Namun tetap ada satu-dua orang mafia politik yang berbaju kiai. Bukankah kiai bermacam-macam, ada yang produk politik, produk media, dan produk masyarakat.

Dengan pemahaman terbalik ini, kita akan sedikit berpikir bahwa Barat tidak harus seluruhnya dibenci. Namun diambil manfaat dan hal-hal positifnya. Jadi, mengapa harus anti Barat?

 

 

Emha Nabil Haroen, Penasehat PCI-NU Taiwan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s