Silaturrahim Musim Dingin Menggapai Cinta Ilahi Bersama Cak Nun dan Novia Kolopaking

Alhamdulillah, dengan semangat kebersamaan dan kekeluargaan, sebuah kegiatan akbar yakni Silaturrahim Musim Dingin: Menggapai Cinta Ilahi Bersama Cak Nun dan Novia Kolopaking telah berhasil diselenggarakan oleh Buruh Migran Muslim Indonesia di Tainan, Taiwan yang tergabung dalam Forum Kerukunan Keluarga Besar Warga Indonesia di Taiwan (FKKBWIT) Tainan, Taiwan, bekerja sama dengan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Tainan dan Forum Mahasiswa Muslim Indonesia (Forrmit) wilayah Selatan (Ahad, 1 Februari 2009).

Sebuah prestasi yang perlu mendapat apresiasi tinggi dari semua pihak, tidak hanya karena acara seperti ini membutuhkan biaya dan tenaga besar di tengah badai krisis global, namun juga karena para panitianya adalah mereka-mereka yang bekerja di pabrik-pabrik dengan tekanan dan jenis pekerjaan yang berat dan berbahaya. Di Taiwan, jenis pekerjaan ini masuk dalam kategori 3D, dirty (kotor), dangerous (berbahaya) and demeaning (rendah). Demi kegiatan ini, mereka rela tidak tidur bermalam-malam untuk menyiapkan konsumsi, meskipun siangnya harus bekerja.  Ada sekitar 2000 nasi kotak yang harus mereka persiapkan. Sebuah pekerjaan besar yang membutuhkan kekompakan dan kesabaran yang tinggi. Beberapa orang malah berani melompat pagar dan keluar dari mess (tempat tinggal yang disediakan pabrik) untuk berlatih musik meskipun konsekuensinya harus membayar NT 3000 jika ketahuan.

Kegiatan ini dihadiri tidak kurang dari 5000 jamaah yang datang dari berbagai penjuru Taiwan, termasuk Bapak Suhartono selaku Kepala Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia di Taiwan, Pak Saiful (KDEI) dan Pak Pangkuh yang pernah dilabeli sebagai Bapaknya Buruh Migran Indonesia di Taiwan beserta tamu undangan lainnya. Mereka datang secara bergelombang, ada yang nyarter bis, menggunakan kereta api dan alat transportasi lainnya. Kegiatan yang dikoordinir oleh Hartono, Jaenal, Daryanto, Opang dan dibantu oleh beberapa mahasiswa muslim Indonesia di Taiwan tersebut bertempat di hall sebuah SD di samping taman Tainan, yang merupakan tempat berkumpulnya Buruh Migran Indonesia di kota Tainan.

Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh fenomena syiar Islam yang semakin merebak di bumi Formosa (Taiwan) dan keinginan untuk mengisi liburan Imlek dengan kegiatan-kegiatan yang positif. Setiap perayaan Imlek, pemerintah Taiwan memberikan jatah libur kepada semua pekerja, tak terkecuali Buruh Migran Indonesia. Biasanya mereka mengisi liburan dengan mendatangi tempat-tempat wisata di Taiwan, baik yang dikoordinir langsung oleh perusahaannya atau perseorangan.

Berbeda dengan tahun sebelumnya, tahun ini mereka sepakat untuk mengisi acara liburan dengan mengadakan pengajian akbar. Sebenarnya tahun kemarin, mereka juga dengan sukses menyelenggarakan keegiatan sejenis dengan pembicara Professor Dr. Ali Aziz dari IAIN Sunan Ampel Surabaya. Berhubung waktunya tidak bertepatan dengan liburan Imlek, ada beberapa jamaah yang mengeluh tidak bisa hadir dan mengusulkan agar kegiatan di tahun-tahun mendatang kalau bisa dilaksanakan pada hari libur Imlek. Usul tersebut direspon oleh pengurus FKKBWIT sehingga tahun ini acaranya diselenggarakan tepat pada liburan Imlek. Selain untuk menyemarakkan syiar islam di Taiwan dan mengisi kegiatan liburan Imlek, acara ini juga bertujuan untuk media silaturahim dan informasi sesama muslim Indonesia di Taiwan, memberikan pemahaman dan penanaman nilai-nilai keislaman dan menumbuhkan motivasi berukhuwah dan menjaga Iman dan Islam secara baik.

Acara dimulai sekitar pukul 9.40 pagi, lebih lambat 25 menit dari waktu yang dijadwalkan. Namun hal tersebut tidak sampai mengganggu jalannya acara. Acara dibagi dua, yaitu pentas seni islami dan acara inti. Acara pentas seni islami menampilkan beberapa grup rebana dari organisasi-organisasi buruh migran muslim Indonesia di Taiwan seperti IWAMIT Kaohsiung, IMIT Taichung, dan Fosmit Chungli. Sebagai tuan rumah FBBWIT menampilkan 4 group rebana. Dengan balutan baju koko dan busana muslim mereka nampak sangat antusias dan semangat melantukan bait demi bait lagu-lagu islami. Kalau bukan orang Indonesia yang tinggal di Taiwan, saya yakin mereka tidak akan tahu bahwa yang berada dipanggung adalah mereka-mereka yang sehari-harinya bergelut dengan pekerjaan-pekerjaan yang berbahaya. Mereka berusaha menampilkan seluruh kemampuannya dalam bermusik untuk menghibur jamaah yang datang. Tepat pukul 12.45 acara inti dimulai. Diawali dengan pembacaan ayat suci Al Qur’an oleh salah seorang buruh migran Indonesia dan dilanjutkan dengan sambutan oleh ketua panitia dan Kepala KDEI, Bapak Suhartono. Sekitar jam 2.00 Cak Nun dan Ibu Novia tampil ke mimbar untuk memberikan tausiah kepada jamaah yang hadir.

Dalam tausiyahnya Cak Nun mengajak kepada para Jamaah agar kepergiannya ke Taiwan dilandasi dengan niat belajar sambil bekerja bukan hanya sekedar bekerja. Dengan bahasa yang sederhana, Cak Nun menguraikan perbedaan ketika seseorang pergi ke Taiwan dengan niat belajar dan pergi ke Taiwan dengan niat bekerja. Kalau niat bekerja, seseorang akan hanya dapat uang dan itu otomotis akan dapat, namun jika seseorang niatnya belajar sambil bekerja, orang tersebut tidak hanya akan mendapat uang namun juga akan mendapat ilmu yang kelak bisa dijadikan bekal untuk hidup mandiri ketika sudah pulang ke Indonesia. Misalnya yang bekerja di bagian pengelasan, siapa tahu kelak bisa membuka bengkel las, yang kerja di pertanian jamur, siapa tahu kelak bisa menjadi petani jamur yang handal.

Tak lupa Cak Nun juga menyelipkan beberapa kalimat yang ditujukan untuk membesarkan hati para buruh migran Indonesia. Dijelaskan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dengan kekayaan yang melimpah. Semua yang diinginkan dunia, ada di Indonesia. Di bandingkan dengan Taiwan yang hanya berpenduduk 23 juta, Indonesia masih jauh lebih besar dan kaya. Sebagai bangsa yang besar dengan kekayaan alam yang melimpah tidak seharusnya bangsa Indonesia terpuruk seperti saat ini. Dengan alasan tersebut Cak Nun mengajak semua komponen yang ada di Taiwan untuk meniatkan belajar sambil bekerja sehingga kelak bisa mandiri di negeri sendiri. Terakhir, Cak Nun juga berpesan kepada mahasiswa Indonesia di Taiwan untuk mempelajari hal-hal yang kelak bisa dimanfaatkan untuk kemajuan bangsa. Di tengah-tengah tausiahnya, tak lupa Cak Nun dan Ibu Novia menyelipkan beberapa lagu dengan iringan kelompok rebana dari buruh migran Indonesia. Meskipun tanpa latihan bersama, tampilan kelompok rebana tersebut cukup apik dan mampu menjawab permintaan Cak Nun. Acara ini ditutup dengan doa oleh Cak Nun dan dilanjutkan foto bersama (Ely susanto).

About these ads

One Response

  1. Salam buat teman-teman NU di Taiwan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 48 other followers

%d bloggers like this: