Sambutan Ketua PBNU Pada Pembukaan Workshop PCI NU Taiwan 2009

SAMBUTAN TERTULIS

KETUA UMUM PENGURUS BESAR NAHDLATUL ULAMA

Untuk dibacakan dalam

Workshop Pembuatan Bioenergi – Biogas, Ethanol, Diesel Skala Rumah Tangga PCI NU Taiwan

Ahad, 18 Januari 2009

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

 sambutan

 Salam Silaturahmi kami sampaikan, semoga kita sekalian senantiasa dalam lindungan Allah SWT dan dianugerahi kekuatan untuk terus menjalankan program kerja organisasi.

Shalawat serta salam senantiasa kita haturkan pada junjungan Nabi Muhammad SAW yang menjadi teladan kita dalam menjalani kehidupan.
Saudara-saudara sekalian, belakangan ini ketika di tanah air tengah berlangsung sekian banyak peristiwa yang menggugah keprihatinan dan membutuhkan penyikapan, kiranya tiada yang lebih membahagiakan perasaan kami selain datang kabar bahwa saudara-saudara PCI NU Taiwan berinisiatif menggelar program workshop yang sangat bermanfaat ini. Workshop bio-energi, biogas, etanol, dan diesel skala rumah tangga merupakan sebuah kegiatan yang menyentuh sekaligus mendorong penyediaan kebutuhan dasar berbasis kemandirian.

Dewasa ini, salah satu ancaman yang seringkali menakut-nakuti adalah krisis energi. Melambungnya harga minyak dunia memicu naiknya harga-harga bahan pokok. Hal ini, di banyak Negara termasuk Indonesia, memicu kesulitan-kesulitan hidup sehari-hari. Dalam konteks yang demikian, tentu saja workshop seperti ini menjadi penting dan relevan. Kita bisa memperjuangkan hidup dalam kemandirian.
Dalam hemat kami, watak Islam yang berkeindonesiaan dan Indonesia yang berkeislaman, terkandung dalam watak kemandirian. Para pendahulu kita telah mengajarkan suatu sikap hidup keislaman yang percaya pada keyakinan, kekuatan, dan potensi diri sendiri: i’timad ala nafs. Kita diajarkan untuk tidak mudah menggantungkan diri pada kedermawanan pihak lain. Kemandirian membuat kita mampu untuk menentukan langkah sendiri, merancang nasib sendiri, dan menghadapi beragam problem yang sewaktu-waktu hadir.
Buah yang dipanen dari sikap hidup mandiri seperti ini adalah kemampuan Islam di Indonesia untuk tampil dalam wajahnya yang khas, wajah yang tegar menghadapi segala macam kesulitan, dan kenyataannya hingga kini terus bertahan. Buah lain yang bisa dipetik adalah cerahnya pandangan kita terhadap masa depan. Kemandirian adalah modal awal untuk mengawali perubahan yang nyata. Hingga sekarang, banyak orang masih memelihara kesalahpahaman bahwa perubahan selalu berkaitan dengan hal-hal yang besar. Seolah-olah, perubahan besar yang menyangkut nasib hidup bersama hanya bisa dilakukan orang-orang besar. Padahal, hal-hal besar justru dibangun dari usaha-usaha yang sederhana namun nyata pengaruhnya. Dari keping-keping usaha yang sederhana itulah, potensi menjadi usaha yang besar terbuka lebar. 
Saudara-saudara sekalian, pernah kami sampaikan bahwa hidup di negeri orang mengharuskan kita untuk bisa berlaku sebagaimana mestinya, patuh pada koridor hukum yang berlaku, menjaga etika kerja, dan tidak kalah pentingnya adalah menampilkan wajah Islam Indonesia yang bersahabat. Dalam pandangan ahlussunnah waljamaah, bekerjapun juga mengandung nilai ibadah sepanjang diniatkan dan dijalankan dengan cara-cara yang baik.
Saudara-saudara sekalian, pada bulan Januari ini, Nahdlatul Ulama akan kembali memeringati hari lahir organisasi yang ke-82. Dalam usia sebanyak ini, ke depan tantangan kita semakin tidak mudah. NU ditunggu perannya untuk bisa menampilkan Islam sebagai agama rahmat lil ‘alamin yang sebenarnya, agama yang menjadi rahmat bagi siapapun dan apapun. Tentu saja, tantangan-tantangan yang mesti segera dijawab meliputi banyak sisi, mulai persoalan ekonomi, pendidikan, kebudayaan, hingga keagamaan.
Dalam suasana yang masih dirundung banyak kesulitan, seringkali orang mudah putus asa dan kehilangan harapan. Namun kita memiliki keyakinan bersama bahwa perbaikan bisa dilakukan dengan mensinergikan potensi-potensi yang selama ini masih berserakan dan kurang tertata rapi. Setelah kunjungan silaturahmi ke Taiwan tempo hari, kami merasakan bahwa saudara-saudara sekalian memiliki ghirah atau semangat untuk berjuang. Kesamaan ghirah inilah yang mendekatkan jarak batin antara kami di Indonesia dan saudara sekalian yang berada di Taiwan. Saudara-saudara hendaknya bisa terus memelihara hubungan ini. Ikatan ukhuwwah antara kita semua mestinya bisa dikencangkan lagi dengan koordinasi-koordinasi yang strategis. Terutama pada pengurus sekalian, jangan segan untuk menjalin kontak dengan kami yang ada di Indonesia.
Terakhir saya berpesan bahwa sekalipun di sekeliling kita banyak aral melintang, saudara-saudara sekalian mesti mampu menampilkan diri sebagai sosok yang menjadi bagian dari solusi atau jalan keluar. Cukuplah negeri kita dihuni orang-orang yang justru karena kemalasan pikir dan kerja menjadi bagian rumit dari persoalan. Sekali lagi, kami yakin bahwa saudara-saudara di Taiwan bisa menjadi bagian dari solusi. Dan acara workshop ini jelas merupakan bagian dari solusi itu. Kami ucapkan selamat atas terselenggaranya workshop ini. Semoga sukses dan mendatangkan manfaat serta barokah.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh 

Jakarta, 16 Januari 2009

Ketua Umum PBNU,

KH AHMAD HASYIM MUZADI

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 48 other followers

%d bloggers like this: